Orangerie Museum Code

Orangerie Museum Code

 

Museum Orangerie, Paris

Jum’at, 11:31 Malam

Kurator terkenal Azarine menatap tajam melintasi selasar luas Galeri Museum Orangerie. Ia menarik lukisan terdekat yang sedang ia lihat, lukisan Bouilloire et fruits. Dengan meraba bingkai berlapis emas, perempuan berusia 21 tahun merenggut karya seni itu ke arah dirinya. Lukisan itu terlepas dan terhempas dipelukannya dan Azarine terjungkal di bawah bingkai bersepuh emas. Seperti yang telah ia perkirakan, tembok besi runtuh bergemuruh di hadapannya membuka pintu masuk di ruang lain. Lantai galeri yang berlapis marmer mulai bergetar, retak. Di seberang jalan alarm mulai berdiring, sangat kencang.

Sang kurator terjatuh sebentar, terduduk, mengatur nafas, dan mengumpulkan tenaga.  Dia bersyukur karena masih hidup. Ia merangkak keluar dari bawah bingkai mahakarya dan mencari ruang untuk sembunyi.

Seseorang melempar tatapan tajam, bicara dengan mengerikan. "Berhenti!"

Dengan bersitumpu pada lutut dan telapak tangan, sang kurator membeku, memalingkan kepalanya secara perlahan ke arah suara misterius itu. Hanya dua puluh langkah kaki jauhnya. Di ruangan lain sebuah siluet pria bertubuh tinggi dan besar. Pria itu mencabut pistol dari sakunya dan membidikan kata melalui kejauhan, langsung kepada sang kurator.

"Kau harusnya mengerti Zarine," kata pria misterius.

Aksennya susah dimengerti dari negara mana ia berasal. "Sekarang, katakan di mana!"

"Aku bersumpah," sahut sang kurator tergagap, berlutut lemas di lantai galeri. "Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau inginkan!"

"Kau berbohong." Lelaki itu menatapnya, bukan tubuhnya yang bergerak, hanya bola mata.

"Kau dan kelompokmu memiliki sesuatu. Sesuatu milik orang lain," bentak pria itu.

Sang kurator merasakan adrenalinnya menciut. Bagaimana ia bisa tahu mengenai hal ini?

"Malam ini, aku ingin barang yang bukan hakmu di kembalikan, dan kau akan hidup." Lelaki itu meletakan pelatuk pistol ke kepala sang kurator. "Apakah itu sebuah rahasia, yang harus kau rahasiakan kepada siapapun?"

Azarine tak bernapas. Mencoba memeluk tubuhnya sendiri, mencoba melindungi diri.

Lelaki itu mengintip ke lubang pistol hingga memiringkan kepalanya 90 derajat.

"Baiklah," katanya perlahan.

"Akan aku katakan," sang kurator mengucapkan kalimat demi kalimat secara perlahan dan hati-hati. Untung saja sang kurator telah berlatih kebohongan berulang-ulang. Setiap kali berlatih, ia selalu berdoa agar kebohongan ini tak pernah ia ucapkan.

Setelah sang kurator selesai bicara. Seulas senyum samar melengkung di wajah pria misterius itu. "Kedengaran kalimat yang kau ucapkan benar. Ketiga temanmu membenarkan apa yang barusan kau katakan," sindirnya.

Pria misterius memasukan tangan di saku celana dan memasang topeng sikap arogan. Apa yang selalu menjadi kebiasaannya dari tadi.

Azarine mendadak mati rasa. Yang lain?

"Aku menemukan yang lain juga, sama sepertimu. Mereka mengatakan apa yang kau katakan," jawab pria misterius puas.

Lelaki misterius mengayunkan pelatuk pistolnya lagi. "Kau akan mati dan aku sudah mengetahui kebenaran tersebut."

Sang kurator tidak hanya diam. Ia sekarang berada di situasi mengerikan. Secara naluri ia berusaha pergi, berlari dan mencari perlindungan.

Peluru telah keluar, sang kurator merasakan benda sekeras besi membenam ke dalam perutnya. Ia tersungkur dan berjuang melawan kematian. Perlahan, Azarine terbaring dan menatap pria misterius itu.

Pria misterius sedang bersiap meletupkan tembakan di kepala Azarine.

Azarine berdegup kencang. Detak jantungnya adalah pusaran gelisah dan rasa takut.

Suara letupan bergema sepanjang koridor. Mata sang kurator terbelalak.

Si pria misterius menatap senjatanya, memandangnya dengan girang. Ia menyeringai memandang isi perut Azarine.

Sang kurator mengalihkan pandangan ke bawah dan melihat pusaran peluru pada kemeja hitamnya. Lubang itu dilingkari sebuah lingkaran darah beberapa inci di bawah tulang rusuknya. Perutku. Sebagai seorang detektif, sang kurator telah menyaksikan kematian tanpa perlawanan. Ia akan bertahan kurang lebih sepuluh menit, ketika darah merembes dan membunuhnya secara perlahan-lahan.

"Selamat atas kematianmu," ujar si pria misterius.

pria misterius itu pergi. Kini Azarine sendirian, ia menoleh ke setiap pintu yang menutup secara otomatis. Dia terperangkap. Saat siapapun melihat tubuhnya, ia sudah mati.

Aku harus mewariskan rahasia yang sebenarnya.

Sambil menatap langit-langit, dia membayangkan teman-temannya telah mati. Dia berpikir tentang misi yang dipercayakan kepada kelompoknya. Hanya ia satu-satunya penjaga rahasia yang tersisa.

Gemetar, dia beranjak bangun. Dia harus berpikir dan menemukan cara.

Ia terperangkap di dalam Galeri Orangerie. Ia menyapu seluruh pandangan ke atas, bawah dan dinding-dinding Galeri. Sebuah koleksi dari lukisan-lukisan yang terpampang seakan menatap ke bawah menangis menatap dirinya.

Dengan mulut yang menggigil menahan sakit, ia mengumpulkan segala upaya yang dia miliki. Dia tahu bahwa misi yang dipercayakan kepadanya selama ini membutuhkan setiap detik dari sisa hidupnya. Dia pun berhasil memberikan clue dan mati secara perlahan.

Kota Paris

Sabtu, 05:30 pagi

Cuaca pagi di bulan April yang segar dan dingin mengalir melewati jendela mobil yang sedang terbuka. Mobil itu meluncur ke selatan melewati Museum Orangerie. Di samping tempat duduk supir, Saka merasa mobil ini melaju dengan kencang ketika ia berusaha menjernihkan pikirannya. Pikiran kusutnya tidak sedikit pun berkurang. Gambar jasad kurator masih melekat di otaknya. Azarine mati. Saka merasa sangat kehilangan kurator itu. Walaupun selalu bersikap dingin, dedikasi Azarine pada seni membuat orang bertekuk lutut padanya. Membuat dirinya dihormati. Buku-bukunya tentang kode rahasia yang tersembunyi di lukisan adalah buku kesukaan Saka. Pertemuan mereka malam kemarin telah sangat dinanti-nantikan Saka, dan dia merasa sangat kecewa ketika kurator itu tidak datang.

Gambar mayat kurator itu menari-nari dalam pikirannya. Apakah Azarine melakukan upaya bunuh diri? Saka menoleh dan melihat keluar jendela, mengusir pikiran itu.

Di luar jendela, kota itu baru saja memulai kegiatannya. Para pedagang menurunkan dagangannya dari atas truk, anak berada di gendongan ibu bergelayut manja supaya tetap hangat diterpa angin bernuansa dingin, mobil polisi mengatasi kekacauan kota itu dengan percaya diri dan sirinenya membelah lalu lintas seperti pisau tajam.

"Fahmi senang ketika dia tahu Anda masih berada di kota Paris hari ini," ujar agen itu sambil fokus mengemudi, untuk pertama kalinya berbicara sejak perjalanan panjang.

"Kebetulan beruntung," sahut agen itu lagi.

Saka sama sekali tidak menganut konsep kebetulan dan beruntung. Sebagai seorang yang sepanjang hidupnya ia dedikasikan sebagai seorang peneliti, kata-kata itu hanya omong kosong belakang.

"Fahmi memberi tahu tempat tinggal saya, bukan?"  kata Saka.

Agen itu menganggukan kepalanya. Begitu ia memperlaju arah mobilnya menuju pusat kota. Menara Eiffel yang kokoh mulai tampak, menjulang tinggi ke angkasa.

"Apakah anda pernah memeluknya?" tanya Agen sambil menatap Saka melihat ke atas.

"Maaf?” Tanya Saka bingung.

Dia sangat cantik, bukan?" ujar agen itu sambil menengadahkan pandangan ke menara Eiffel.

"Belum, saya belum pernah mengunjunginya," jawab Saka sambil menggulung pandangannya ke atas.

Ketika mereka memasuki jalan yang sunyi, agen itu merogoh ke bawah dashbord mematikan sirine handphone. Saka termenung, menikmati kesenyapan. Dari jendela sebelah kanan, Saka melihat cahaya lampu dari stasiun kereta api tua. Sekarang sudah menjadi Museum Orangerie yang anggun. Museum Orangerie, Saka merasa takjub ketika matanya tak mampu berpaling dari bangunan besar itu. Museum Orangerie adalah galeri seni lukisan impresionis yang terletak di sudut barat Taman Tuileries di sebelah Place de la Concorde di Paris. Orangerie dibangun pada tahun 1852 untuk menyimpan buah jeruk di musim dingin.

Saka pernah berjalan-jalan di dalam Museum Orangerie. Ia melihat lukisan The Water Lilies dengan saksama. Sangat mengagumkan.

Tidak terasa perjalanan pun berakhir, seseorang berpakaian jas double breast berwarna hitam tampak menutupi tubuhnya. Dia berjalan menuju mobil menghampiri Saka.

"Saya Fahmi," katanya ketika Saka keluar dari mobil.

Saka mengayunkan tangannya untuk berjabat tangan. "Saya Saka."

Tangan Fahmi yang kekar membungkus tangan Saka dengan begitu kuat.

"Aku sudah melihat foto itu," ujar Saka.

"Agen anda mengatakan bahwa Azarine sendiri yang........," ucap Saka.

"Aku ingin tahu sejauh mana anda mengenal Azarine," tanya Fahmi.

"Sebenarnya saya sama sekali belum pernah bertemu Azarine," jawab Saka singkat.

Fahmi terkejut. "Pertemuan pertama kali terjadi tadi malam, bukan?"

Fahmi sibuk menulis beberapa catatan dalam buku investigasinya, walaupun ia bukan detektif. Tapi ia sangat berminat di bidang tersebut.

"Siapa yang meminta pertemuan pertama kali?" tanya Fahmi tiba-tiba.

"Anda atau dia?" tanyanya lagi.

Pertanyaan itu terdengar sedikit mengusik tetapi Saka tetap menjawabnya. "Azarine," jawab Saka ketika mereka telah sampai koridor dimana Azarine mati secara tak wajar.

"Kami mempunyai minat yang sama, seni. Kami juga sama-sama detektif," timpal Saka.

“Jadi kalian memiliki minat yang sama?” tanya Fahmi.

“Ya. Saya banyak menghabiskan waktu saya untuk menulis konsep sebuah buku yang berhubungan dengan keahlian utama Azarine. Saya berharap bisa mengambil otaknya,” jawab Saka mencairkan suasana.

"Apakah anda bisa menerka apa yang ingin didiskusikan korban pada anda saat malam dia terbunuh?" tanya Fahmi.

Saka hanya terdiam. Pertanyaan yang menohok, sangat membuat Saka tidak nyaman. Untungnya ia harus segera melakukan penyelidikan atas kematian Azarine dan Fahmi bersiap pergi dari Koridor.

Saka segera mengalihkan pandangan keseluruh koridor. Ia melihat seluruh detail dalam ruangan. Ia memperhatikan dinding, atap, lantai, dan membongkar setiap lukisan yang ada. Dia menemukan tulisan yang di torehkan dengan darah di belakang lukisan Bouilloire et fruits.

Singkirkan penjahat itu.

G-E-B-M-Z

R-Z-E-----X-A-L-E-B

M-A-M-H-Y-N-U-B

H-E-N-T-Y-K---O-P-E-N-F

Saka segera mengambil kertas dan mencoba memecahkan kode itu. Saka belum bisa memecahkan. Apakah dia mati dibunuh atau telah terjadi upaya bunuh diri? Kode tersebut berisi petunjuk kematian Azarine.

Azarine ternyata menitipkan sebuah kode rahasia yang disimpan di belakang lukisan. Dia berpesan agar rahasiakan kode ini dari siapapun, karena suatu hari nanti kebenaran akan terungkap.

Saka terus memutar otaknya. Ia mencocokan kode-kode tersebut ke semua sandi dan kode yang telah ia pelajari selama ini dimulai dari sandi caesar, sandi atbash, sandi polialfabet, sandi berlapis, sandi morse, stegnografi, transposisi, substitusi monoalphabetic, vigen re, true code, dan yang terakhir kriptografi public-key. Tapi tidak satu pun cocok.

Saka segera beranjak dari ruangan ini dan menuju perpustakaan. Ia melakukan studi literatur dengan mengumpulkan seluruh buku yang ditulis Azarine. Tapi Saka tidak menemukan petunjuk apapun.

Beberapa hari ini ia sita untuk fokus untuk menyelidiki kasus kematian Azarine. Tidak terasa waktu sore telah hadir menerpa kota Paris. Saka tetap melanjutkan penyelidikannya. Ia pun bergegas pergi ke rumah mendiang sang kurator.

Ia membuka paksa pintu masuk dan menelusuri seluruh ruangan di dalam rumah. Saka menemukan apa yang ia inginkan, kamar Azarine. Ia masuk dan mencari catatan-catatan yang pernah di tulis sang kurator. Setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia pun pergi.

Saka membolak balikan kertas yang di tulis Azarine. Ia menemukan suatu kode yang selama ini belum pernah ia pelajari sama sekali yaitu "plugboard code".

Saka segera mencari di pencarian mengenai kode plugboard di internet. Berdasarkan situs www.zenius.net. Enigma adalah mesin mekanikal dan elektrikal yang mengubah pesan menjadi sandi. Kodenya ternyata tidak mudah. Plugboard di Enigma ini terdiri dari satu papan listrik yang isinya huruf sama colokan di masing-masing huruf. Ada 10 pasang huruf yang dihubungkan sama kabel yang dicolokin ke sana. Gunanya plugboard ini adalah generate sandi level satu, mengubah huruf karakter yang di-input melalui keyboard jadi huruf lain (or not). Huruf A dan E berhubungan, B dan H berhubungan, C dan S berhubungan hingga seterusnya. Di kode Enigma standar Jerman, ada 6 huruf yang tidak berpasangan yaitu dari J sampai O. Pasangan huruf di kode plugboard:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

E H S R A G F B Z J K L M N O R V P C X Y W V T U I

Saka segera mencocokan kode yang ditulis sang kurator dengan huruf-huruf di kode plugboard.

G-E-B-M-Z

R-Z-E-----X-A-L-E-B

M-A-M-H-Y-N-U-B

H-E-N-T-Y-K---O-P-E-N-F

Artinya

F-A-H-M-I

D-I-A------T-E-L-A-H

M-E-M-B-U-N-U-H

B-A-N-Y-A-K---O-R-A-N-G

Saka memutar otak, memanggil memori percakapan tadi pagi. Aha! Saka sudah menemukan pelakunya. Saka teringat kata-kata Fahmi:

Apakah anda bisa menerka apa yang ingin didiskusikan korban pada anda saat malam dia terbunuh?

Mengapa ia menggunakan kata-kata terbunuh? Kenapa Fahmi tidak menggunakan kata bunuh diri? Padahal kematian Azarine saat ini ditetapkan sebagai bunuh diri.

Saka segera menelpon polisi dan menuju ke kediaman Fahmi. Ia tidak mau ketinggalan, ia pun segera menuju ke TKP. Fahmi adalah tersangka dalam kasus kematian Azarine. Fahmi mengaku memesan pembunuh bayaran untuk menghabisi Azarine, karena hanya Azarine yang tahu ia mengidap skizofernia. Fahmi telah membunuh banyak orang, karena pengaruh penyakit yang ia idap.  Penderita skizofrenia masih dapat dijatuhi pidana, walaupun masuk ke dalam kategori ontoerekeningsvatbaarheid (hal  tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atas tindakannya). Dengan terungkapnya tersangka. Maka kasus ini resmi di tutup.

Komentar

  1. Bagus ceritanya, ditunggu cerita selanjutnya 😁

    BalasHapus
  2. Wahh thank you so muchh Wa to the hid, Wahid wkwkwkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer