Sign of Avenoir
Sign of Avenoir
Rothenburg ob der
Tauber, Jerman
Jum’at, 21:37 CET
Bulan
menggantung pucat di langit malam. Lampu-lampu rumah dinyalakan. Angin malam
menyusup di antara rumah-rumah, sangat dingin. Rothenburg ob der Tauber,
kota di distrik Ansbach, Bayern, Jerman, mendadak menunjukkan keanehan. Asap
biru safir muncul—berpendar, sesekali meletup kecil. Fenomena itu cukup membuat
petugas keamanan kota diliputi rasa ngeri.
Petugas
keamanan yang berjaga malam itu adalah Mr. Apollo—pria tua penakut. Saat asap
biru safir memancar, ia memilih meringkuk di pos jaga, ditemani enam kucing
betina, miliknya. Seandainya ia berani sedikit saja, Mr. Apollo akan melihat
tujuh burung berkumpul dalam kabut kebiruan, lalu menjelma menjadi tujuh sosok
manusia.
Seekor
bohemian waxwing menumbuhkan rambut abu-abu di kepalanya, lalu menjelma
menjadi Albert Fabrice.
“Selamat
malam, Rose Mary,” sapa pria tampan itu sambil tersenyum ke arah pine
grosbeak yang mengepul dalam asap, lalu menampakkan wujud aslinya sebagai
seorang wanita dewasa.
“Hanya
ada tujuh,” jawab Mary singkat. blue jay tidak muncul, dan burung dari lillehammer
pun tidak hadir malam ini.
Di
sisi lain golden pheasant bird berubah menjadi sesosok wanita berwajah
tegas dan keras. Seekor keel billed toucan berubah menjadi pria berwajah
muram dan suram. Hyacinth macaw berubah menjadi gadis muda bermata indah.
pardisaea bird berubah menjadi pria tua berperawakan gemuk dan memiliki
perangai periang. Strigiformes bird berubah menjadi seorang pria tambun,
beruban, dan memakai kaca matanya.
“Beberapa
tidak bisa hadir ya,” analisis pria tua berkaca mata.
“Tapi
bukanlah masalah besar, kita bisa memulainya sekarang. Tolong Mrs. Wilma,”
lanjutnya berbicara.
Mrs.
Wilma mengangguk setuju. Ia memejamkan mata, lalu mengayunkan kedua tangan
serempak. Udara malam bergemuruh, memancarkan vibrasi aneh. Anjing-anjing kota
terbangun, mata mereka menyala hijau elektrik, menyaksikan getaran magis di
tanah Rothenburg ob der Tauber. Cahaya putih perlahan mengudara, lembut terbawa
angin malam. Mrs. Wilma menarik napas.
“Toverspreuk!”
pekiknya. Mrs. Wilma berasal dari Belanda. Di masa muda, Mrs.Wilma pemandu orchestra. Memimpin paduan suara. Hal ini membuat alunan tangan
Mrs. Wilma selalu memukau pandangan mata. Tanah mengerang; gelembung biru pucat
muncul, membentuk danau dingin. Semua yang hadir mundur, seakan ditarik oleh
rasa takut yang sama. Mrs. Wilma terdiam, napasnya berat. Anggota lain
mengangkat tongkat magis, merapal mantra serak—kata-kata terlarang yang
menempel di udara.
“Avenoir…”
“Avenoir…”
“Avenoir…”
Semua
anggota merapalnya serempak.
Fauntleroy
menatap sayu ke kedalaman danau, lalu mengangguk. “Sepuluh orang semuanya.”
Mr.
Kendrick mengangguk pelan. "Saatnya menunggu.”
Anggota
lain mengangguk, merogoh jubah, dan menggenggam bola-bola feldgrau.
Mantra dirapal; kesepuluh bola itu pun terbang ke penjuru dunia.
Athena, Yunani
Senin, στις 17:00 (UTC+3)
Musim
panas belum usai, namun musim gugur sudah memamerkan daun-daun berwarna
cantik seperti kuning mentega, kayu manis, jingga, dan roti bakar. Meledak
seperti letusan kembang api di langit senja keemasan. Di sisi lapangan,
seorang anak duduk menonton pertandingan baseball sambil mengikat tali
sepatu di kaki kirinya yang timpang. Namanya Nyx, ia mengalami leg
length discrepancy, kelainan bawaan. Ia
menghela napas, berdiri, meratakan pijakan, lalu hendak pergi. Sebuah batu
bulat hijau keabuan menggelinding dan berhenti tepat di kakinya. Ia
memungutnya. Benda itu sebesar bola kasti, terlihat indah, hangat, dan
berdenyut pelan. Udara di sekitarnya terasa menahan napas. Sengatan
menyambar pergelangan tangannya. Batu itu terlepas, melayang, berputar pelan.
Waktu seakan meregang.
BLAR!
Lenyap—semuanya
hilang. Nyx terbangun di tempat asing, terbaring di atas ranjang, masih
mengenakan seragam sekolah. Udara terasa asing. Cahaya menyelinap dari
balik gorden, pucat dan ragu. Pagi, pikirnya, meski tak yakin.
"Wah
sudah sadar ya?" tanya seorang wanita asing.
Nyx
menoleh, memiringkan tubuhnya seperti teko teh yang hendak dituang ke dalam
gelas, menatap heran gadis yang berjalan di depannya.
Seorang
gadis berambut cokelat kemerahan menenteng nampan berisi kentang tumbuk hangat
yang mengepul, brokoli kukus hijau segar, sosis panggang yang harum, dan
segelas susu. Ia meletakkan hidangan itu di samping tempat tidur dengan
hati-hati, lalu duduk di sisi Nyx, matanya menatapnya lembut.
Perempuan
berambut cokelat menggeser nampan ke arah Nyx, menatapnya dengan lembut.
"Makan dulu, ya… kamu baru sadar, kan? Pasti masih kurang tenaga,"
ucapnya sambil menyerahkan sendok, nadanya hangat.
"Hah?"
jawab Nyx heran.
Cewek
berambut cokelat tersenyum hangat, matanya berkilau saat dia mengulurkan tangan
dengan ramah.
"Thyra,"
katanya.
"Nyx
Floretta," sahut Nyx, memperkenalkan diri dengan sedikit canggung. Ia
menjabat tangan Thyra sambil tersenyum hangat, lalu menyerahkan nampan sarapan
kepadanya. Aroma kentang tumbuk hangat dan sosis panggang menyeruak, membuat Nyx
menatap hidangan itu dengan mata berbinar, sedikit terkejut dan penasaran.
"Enak
banget kan?" tanya Thyra sambil tertawa kecil.
Nyx
mengangguk kecil, setuju dengan perkataan Thyra. Dalam hati, ia berjanji akan
memasukkan hidangan itu ke dalam daftar makanan favoritnya.
Setelah
mereka berbincang, Thyra melirik piring Nyx yang sudah kosong. Nyx menunduk,
tersipu malu, tapi di dalam hatinya ia senang—rupanya sarapan itu benar-benar
disukainya.
"Sudah
selesai, ya? Mau ke aula sekarang?" tanya Thyra sambil tersenyum.
Aula
itu luas, menyerupai amphitheater raksasa. Cahaya lembut menembus jendela
tinggi, memantul di lantai kayu mengilap. Nyx duduk berjajar bersama sepuluh orang asing lainnya, napas mereka terdengar agak tertahan. Tepat di depan
mereka, beberapa orang dewasa duduk rapi, membentuk satu baris yang kaku dan
tenang. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria paruh baya, bertubuh tambun,
rambut beruban, berkacamata—tatapannya menembus, seolah bisa membaca setiap
gerak gerik mereka. Suasana hening, hanya terdengar gemerisik kursi dan langkah
kaki yang jauh di lantai atas.
"Semuanya
telah berkumpul di sini. Mari kita mulai acaranya," suara Mr. Kendrick
terdengar tegas, memenuhi aula yang hening. Beberapa orang dewasa menatap lurus
ke depan, sementara Nyx dan sepuluh orang asing lainnya duduk kaku, menahan
napas sejenak. Suasana aula seketika terasa resmi dan penuh antisipasi, seolah
semua mata tertuju pada pria paruh baya itu.
Pria
paruh baya itu, mampu mengubah wujudnya menjadi seekor burung strigiformes
kapan saja—bulu halusnya berkilau di cahaya aula, matanya yang tajam seakan
menembus jiwa setiap orang. Kini, ia tersenyum hangat, kembali dalam wujud
manusianya, menyambut kami dengan ramah.
"Selamat
datang, anak-anakku! Kalian termasuk orang-orang terpilih yang akan mengikuti
pusat pelatihan sihir di Sign of Avenoir," ucapnya. Suaranya
bergema di aula luas, dan udara di sekitarnya seolah bergetar lembut, membawa
sensasi magis yang membuat jantung kami berdebar kagum sekaligus penasaran.
Wajah
Nyx tercengang. "Sihir?"
"Nama
saya Mr. Kendrick, pemimpin Sign of Avenoir," ucap pria paruh baya itu,
matanya menyapu seluruh ruangan dengan tajam. "Kalian kini berada di
Rothenburg ob der Tauber, sebuah kota di distrik Ansbach, Bayern, Jerman. Di
dunia ini terdapat dimensi paralel, tersembunyi, hanya terbuka bagi mereka yang
memiliki kemampuan istimewa."
Saat
kata-katanya bergema, udara di aula seakan bergetar lembut, dan bayangan cahaya
menari di lantai kayu, membuat kami merasakan sesuatu yang tidak nyata.
"Di
sinilah kalian akan belajar sihir, hingga akhir musim salju tiba. Ingatlah,
peraturan di sini bersifat mutlak—ilmu sihir hanya boleh dimiliki oleh orang
yang benar-benar layak," tambahnya, suaranya tegas namun membawa aura
misterius yang membuat semua mata tertuju padanya.
Seorang
pria berkulit pucat, bermata sipit, mengangkat tangannya dengan ragu.
"Kami… kami tidak punya ilmu sihir, Mr. Kendrick," kata pria itu,
suaranya terdengar tegang dan penuh keraguan.
"Kalian
belum menyadarinya," suara Mr. Kendrick bergema di aula, tegas namun
lembut, seakan menembus setiap sudut ruangan. "Di sinilah kesempatan
kalian—untuk menyadari dan memanfaatkan ilmu sihir dalam diri kalian."
Udara
di sekitar bergetar halus, cahaya dari jendela tinggi menari di lantai, seakan
menyoroti setiap dari kami. Nyx menatap sekeliling dengan mata melebar,
napasnya tertahan. Beberapa teman duduk kaku, tangan sedikit gemetar, wajah
mereka memancarkan kagum dan penasaran. Hening sesaat menyelimuti aula, sebelum
perasaan ajaib itu benar-benar menyadarkan kami bahwa dunia yang selama ini
kami kenal akan segera berubah.
"Kalian
dipilih oleh Crystal Ball Feldgrau," suara Mr. Kendrick bergema di
aula, matanya menyapu kami satu per satu. "Bola itu menyimpan inti dari
mantra-mantra sakral. Tahun ini, hanya sepuluh orang yang terpilih."
Saat
ia menyebut nama bola itu, cahaya lembut berkilau dari arah meja di depan,
seakan memantulkan aura magis ke seluruh ruangan. Udara terasa hangat dan
bergetar halus, menimbulkan sensasi ajaib yang membuat jantung kami berdebar.
"Sekarang,
saatnya kita berkenalan. Silakan, Mrs. Claire," lanjutnya, sambil kembali
duduk, aura wibawanya tetap memenuhi aula.
Mrs.
Claire membacakan nama demi nama, sembari menyesuaikan bingkai kacamata di bola
matanya yang indah. Setiap kali satu nama disebut, cahaya lembut menyoroti Nyx
dan teman-teman, membuat udara di sekitarnya bergetar halus, seolah aula itu
sendiri menarik napas mengikuti ritme nama-nama yang dipanggil.
Saat
nama Nyx Floretta terdengar, cahaya di aula berkedip, menyorotnya
secara khusus. Jantung Nyx berdebar kencang, napasnya tertahan, dan matanya
melebar. Sebuah kilatan hangat, disertai aroma aneh—campuran bunga dan
rempah—menyapanya seketika, membuatnya diam terpana. Rambutnya bergerak ringan
mengikuti getaran udara, dan aura sihir mengalir dari tubuhnya, membentuk kabut
lembut yang mengelilinginya. Dunia di sekelilingnya seakan berubah sekejap
menjadi sesuatu yang ajaib; bayangan cahaya menari-nari di lantai, dan udara
seolah berputar mengikuti energi yang mengalir dari dirinya.
Teman-temannya
menatapnya dengan kagum, beberapa masih gemetar, napas mereka tercekat. Cahaya
lembut terus menari di aula, menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar
pemanggilan nama—tetapi pembuka gerbang ke dunia sihir yang nyata, menakjubkan,
dan penuh misteri.
"Airish
dari daratan Swedia!" suara Mrs. Claire bergema di aula, tegas dan penuh
wibawa. Begitu nama itu disebut, cahaya lembut menyorot ke arah Airish, membuat
udara di sekitarnya bergetar halus.
Airish
menatap sekeliling, napasnya tertahan, sementara yang lain menoleh, mata
melebar, kagum. Kilatan hangat menyertai cahaya itu, dan aura magis seakan
melingkupi tubuhnya sebentar, membuat semua orang merasakan sensasi ajaib yang
sama seperti saat nama Nyx dipanggil.
Cahaya
lembut terus menari di aula, menegaskan bahwa setiap pemanggilan nama bukan
sekadar formalitas—melainkan penanda bahwa dunia sihir sedang perlahan membuka
dirinya bagi mereka yang terpilih.
Seorang
wanita dengan ciri khas Skandinavia—rambut terang, kulit pucat, dan mata yang
dingin tapi tajam—berdiri ragu-ragu di aula. Cahaya lembut dari jendela
menyorot tubuhnya, membuat udara di sekitarnya bergetar halus.
Pastilah
dia Airish, pikir Nyx, matanya terpaku pada sosok itu. Aura magis seakan
menyelimuti Airish sesaat, membuat kehadirannya tampak lebih nyata dan
istimewa, seperti seseorang yang baru saja keluar dari halaman buku sihir.
"Elno
dari Finlandia!" suara Mrs. Claire bergema di aula, tegas dan berwibawa.
Pria
berwajah teduh itu perlahan berdiri. Bola matanya memancar cahaya hangat,
membuat udara di sekitarnya bergetar halus. Aura tenang memancar dari dirinya,
seakan energi magisnya membungkus tubuhnya dengan kabut halus yang hanya bisa
dirasakan oleh mereka yang hadir.
Nyx
menatapnya dengan penasaran, merasakan sensasi hangat dan damai yang mengalir
dari aura Elno. Teman-temannya juga menahan napas, kagum pada ketenangan pria
itu, sementara cahaya lembut terus menari di aula, menegaskan bahwa setiap
peserta yang dipanggil bukan sekadar nama—mereka adalah bagian dari dunia sihir
yang perlahan terbuka.
"Berikutnya,
Finral," suara Mrs. Claire menggema di aula.
Lelaki
berkulit kecokelatan dengan hidung bangir itu perlahan bangkit. Begitu berdiri,
cahaya hangat muncul dari sekelilingnya, menari pelan di udara dan menyapu
lantai aula, seakan mengikuti setiap gerakannya. Aura kuatnya membentuk kabut
tipis yang berputar lembut, membuat ruangan terasa hidup dengan energi magis.
Nyx
menatapnya terpaku, merasakan getaran hangat yang menyebar dari Finral. Kilatan
cahaya seolah menyinggung bayangan teman-temannya, menimbulkan sensasi hangat
dan sedikit takjub. Para peserta lain menahan napas, kagum, sementara aula
dipenuhi cahaya yang bergerak seirama.
Setiap
peserta memiliki kisah unik tentang bagaimana mereka mendapatkan Crystal
Ball Feldgrau.
Airish
menemukannya secara tak sengaja saat membersihkan gudang di rumahnya. Begitu
tangannya menyentuh bola itu, cahaya lembut memancar, menari di udara, dan
seolah menyentuh sekeliling ruangan seakan memberi salam hangat dari dunia
sihir.
Finral
mendapatkannya ketika menjuarai turnamen memanah. Saat panah terakhirnya tepat
mengenai sasaran, bola itu memancarkan kilatan terang, mengikuti gerakan
lengannya, menegaskan keberanian dan ketepatan yang menjadi inti kekuatannya.
Elno
menerima bola itu dari seseorang sebagai imbalan atas kepiawaiannya bermain
kasino. Cahaya dari bola memantul lembut ke sekeliling, bergerak seirama dengan
detak jantungnya, menciptakan sensasi hangat yang terasa menenangkan, sekaligus
menegaskan keberuntungan dan ketenangan yang melekat pada
dirinya.
Setiap
peserta membawa kisah unik di balik Crystal Ball Feldgrau mereka,
dan bola-bola itu seolah memiliki jiwa sendiri, mencerminkan kekuatan
pemiliknya.
Xuan dan Xin Xio Mei menemukannya dengan cara yang ganjil sekaligus ajaib: tersembunyi di dalam perut seekor ikan yang mereka belah untuk dimasak. Mereka adalah juru masak di salah satu restoran China, terbiasa dengan rutinitas dapur yang riuh, pisau tajam, dan aroma bumbu yang melekat di pakaian. Saat disentuh, bola itu memancarkan
cahaya hangat yang berputar ringan, seperti tertawa pelan, menghidupkan
keajaiban dari momen paling sederhana dalam hidup mereka.
Louisa
Gruenert memegang bola yang menenangkan. Setiap kilatan lembut dari bola itu
seperti menegaskan kesabaran dan pengendalian diri yang mengalir alami dari
dalam dirinya—tenang, tapi penuh kekuatan.
Ethan
Barett memiliki bola yang berdenyut seperti detak jantung alam. Dari dalamnya
memancar cahaya hijau, berputar mengikuti gerakan tubuhnya, seakan alam memberi
hormat pada kemampuan Ethan untuk memahami dan berinteraksi dengan makhluk
hidup di sekitarnya.
Gaharu
membawa bola yang berbicara melalui cahaya. Kilatan hangatnya mengalir ke
sekitar, menumbuhkan rasa percaya dan perhatian di udara, seakan setiap gerakan
dan kata-katanya memiliki getaran yang bisa memengaruhi hati orang lain.
Yushiro memegang bola yang memancarkan aura tajam dan cermat. Cahaya biru
lembut mengikuti arah tatapannya, membentuk bayangan rumit di lantai, seakan
memvisualisasikan strategi dan siasat yang selalu ada dalam pikirannya.
Di
aula, sepuluh bola itu bersinar dengan ritme mereka sendiri. Cahaya menari,
menyentuh satu sama lain, menciptakan jaringan energi yang terasa hidup. Nyx dan
lainnya dapat merasakannya—getaran lembut tapi nyata yang mengingatkan mereka
bahwa dunia sihir ini bukan sekadar cerita. Ia memilih pemiliknya dengan cara
yang unik, penuh rahasia, dan benar-benar memikat.
Nyx
merasa sedikit menciut. Ia mendapat Crystal Ball Feldgrau terakhir,
dan cara mendapatkannya terasa sangat biasa—tidak mengesankan sama sekali.
Hatinya campur aduk antara tidak tertarik dan prihatin pada dirinya sendiri.
Saat
seseorang bertanya bagaimana ia mendapatkan bola itu, Nyx hanya mengangkat bahu
dan menjawab seadanya:
"Kebetulan
saja… bolanya menggelinding begitu saja, tepat mengenai ujung sepatuku."
Kilatan
cahaya dari bola itu menyala lembut di kakinya, tetapi berbeda dari kilatan
magis peserta lain—tidak dramatis, tidak memukau—hanya cukup untuk menegaskan
bahwa, meski sederhana, bola itu memilihnya juga. Nyx menunduk, menahan rasa
canggungnya, sementara teman-temannya menatapnya dengan penasaran, tak
sepenuhnya tahu apa yang baru saja terjadi.
"Apa
artinya, Mrs. Claire? Benarkah itu cuma kebetulan?" tanya Yushiro, rasa
ingin tahunya jelas terpancar.
Mrs.
Claire, yang sejak tadi menjelaskan makna Crystal Ball Feldgrau masing-masing
peserta, kini tampak merenung. Sesekali ia memutar bola matanya ke atas, seolah
menelusuri setiap kilatan cahaya yang menari di aula. Udara di sekitarnya
terasa lebih hening sejenak, dan cahaya lembut dari bola-bola yang ada di
lantai seakan menunggu jawaban yang akan ia berikan.
"Serendipity…"
gumam Mrs. Claire, suaranya lembut tapi bergema di aula.
"Saya
rasa, suatu keberuntungan," sambung Mrs. Claire, suaranya lembut namun
tegas.
Kilatan
cahaya dari Crystal Ball Feldgrau berpendar pelan di aula,
menyorot para peserta seolah ikut menekankan makna di setiap katanya. Udara
terasa lebih hangat, seakan energi magis dari bola-bola itu meresap ke setiap
sudut ruang. Nyx menatap bola di kakinya, merasakan getaran halus yang
membuatnya sadar bahwa, meski sederhana, keberuntungan pun bisa muncul dengan
cara yang paling tak terduga.
Para
peserta lain menahan napas, terpaku pada cahaya lembut yang menari di aula,
sementara kata “keberuntungan” itu seolah menempel di udara, menegaskan bahwa
dunia sihir ini penuh misteri dan kejutan.
Mr.
Albert Fabrice tersenyum, wajahnya elegan dan tenang. “Benar sekali. Kalian
yang berkumpul di sini semuanya membawa keberuntungan masing-masing. Namun,”
suaranya menekankan, menahan sejenak agar semua mata tertuju padanya, “Mrs.
Floretta memiliki keberuntungan yang sangat kuat… dan ia mampu mengendalikannya.”
Begitu
kata-kata itu terucap, Crystal Ball Feldgrau di kaki Nyx
tiba-tiba memancarkan cahaya hangat yang lebih terang, berputar perlahan
membentuk lingkaran lembut di udara. Udara di aula bergetar halus, seakan dunia
sihir ikut menegaskan pengakuan itu.
Cahaya
dari bola-bola peserta lain ikut menari, seakan mengakui kekuatan unik Nyx.
Kilatan lembut menyentuh tepian meja dan lantai, membentuk jalur bercahaya yang
menyorot tubuhnya. Para peserta menahan napas, terpesona dan sedikit gemetar,
sementara aura hangat dan getaran energi itu menyelimuti Nyx, mengingatkannya
bahwa keberuntungan yang dimilikinya bukan sekadar hadiah—tetapi sesuatu yang
nyata, yang bisa ia kendalikan.
Seluruh
aula dipenuhi tarian cahaya yang harmonis, kilau dan aura berpadu seirama
dengan kata-kata Mr. Fabrice. Momen itu terasa hening, sakral, dan penuh
kekaguman—seakan dunia sihir itu sendiri sedang memberi penghormatan pada Mrs.
Floretta, dan menegaskan bahwa siapa pun yang hadir di sini tengah menyaksikan
sesuatu yang benar-benar luar biasa.
“Ayo,
sekarang saatnya latihan, anak-anakku! Bersenang-senanglah!” serunya sambil
tersenyum lebar.
“Perkenalkan…
nama saya Miss Rose Mary.” Rambut merahnya berkilau seperti api senja. “Di
belakang saya, Thyra dan George.” Tubuh mereka bergerak serempak, aura mereka
seakan menandai awal ritual yang telah lama menunggu.
“Jadi
di sini ada beberapa sihir yang wajib kalian kuasai. Setiap kelas harus kalian
ikuti dengan baik agar bisa lulus dari Sign of Avenoir. Yang
pertama, kalian akan belajar banyak dengan Mr. Albert Fabrice tentang
sihir umum yang mencakup materi telepati, telekinesis dan sihir turunannya. Dia
adalah guru terbaik dan guru yang paling baik di seluruh penjuru Sign of
Avenoir,” jelas Miss Rose Mary.
Setiap
kali ia menyebut nama Mr. Fabrice, nada suaranya mengandung rasa kagum yang
tulus. Para peserta bisa merasakan aura hormat yang terpancar dari setiap kata,
seolah kekuatan dan wibawa Mr. Fabrice sendiri mengisi udara di aula, membuat
setiap mata tertuju padanya.
“Selanjutnya,
transformasi akan diajarkan oleh Mrs. Claire—wanita keriput yang tadi
memanggil nama kalian,” lanjut Miss Rose Mary, suaranya lembut tapi mengandung
wibawa. Begitu nama setiap guru disebut, kilatan cahaya dari Crystal
Ball Feldgrau peserta menari lembut, seakan mengakui dan menghubungkan
energi mereka dengan guru masing-masing.
“Sihir
pertahanan akan kalian pelajari dari Sir Fauntleroy,” lanjutnya.
Cahaya hijau lembut berputar di udara, seakan membingkai aura kekuatan
pertahanan. “Mrs. Wilma akan membimbing kalian dalam sihir kutukan dan
jampi-jampi,” kata Miss Rose Mary, dan kilatan ungu tipis memancar dari bola
peserta, menari mengikuti kata itu.
“Untuk
sihir menyerang dari segala arah, kalian akan belajar dari Mr. Nathanael
Thoreau, dan bagi yang ingin memahami sihir penyembuhan, Mrs. Lynch akan
menunjukkan jalan kalian.” Cahaya lembut berwarna biru dan merah menyentuh
udara, mengikuti ritme kata-kata, seperti aula itu sendiri hidup bersama energi
guru-guru ini.
Miss
Rose Mary menatap setiap peserta satu per satu. “Banyak yang harus kalian
pelajari hingga akhir musim salju tiba. Setiap kelas adalah kesempatan untuk
menemukan kekuatan tersembunyi, mengasah kemampuan, dan merasakan dunia sihir
yang menunggu kalian.”
Para
peserta terpaku, napas mereka tercekat sejenak. Kilatan lembut dari bola-bola
itu berputar dan menyentuh udara di sekitar, menegaskan bahwa perjalanan mereka
bukan sekadar belajar sihir—tetapi memasuki dunia yang hidup, penuh misteri,
energi, dan keajaiban yang nyata.
“Kalian
harus berhati-hati dengan semua guru,” kata George, sambil terkekeh.
“Mereka punya tatapan yang… ngeri. Bisa saja tiba-tiba mengutuk kalian,
dan—hei—terkadang mereka lupa sihir penawarnya!”
Beberapa
peserta menahan napas, sedangkan yang lain menahan senyum, sementara aula
terasa hidup—energi sihir mengalir dari bola, mengikuti tatapan, gerakan, dan
kata-kata George. Dunia sihir ini nyata, penuh rahasia, dan selalu sedikit
berbahaya, bahkan ketika suasananya tampak ringan.
Xin
Xio Mei tiba-tiba murung, suaranya nyaris berbisik ketika ia berbicara untuk
dirinya sendiri:
“Bagaimana
bisa kita pergi berbulan-bulan tanpa orangtua menyadari…? Pergi begitu
tiba-tiba…”
Beberapa
peserta menunduk, bergumul dengan pikiran mereka sendiri, sementara cahaya
lembut dari bola-bola di aula berputar pelan, menyorot wajah-wajah muda yang
terpaku pada kenyataan bahwa perjalanan di dunia sihir ini tidak selalu mudah,
meski penuh pesona.
Thyra
menghembuskan napas panjang, nada suaranya ringan tapi penuh kepastian.
“Sudah
ku bilang, ini dunia paralel. Kita semua penyihir, dan Mr. Kendrick… dia
penyihir hebat. Jadi biarlah urusan itu jadi tugasnya.”
Ia
melangkah sedikit ke samping, tangannya menunjuk ke udara seakan menyingkap
tirai tak terlihat.
“Di
sini, kalian bisa pergi ke mana saja, keluar di mana saja, dan kapan saja…
terserah kalian.”
Saat
kata-katanya terucap, aula terasa seketika lebih luas. Bayangan cahaya menari
di dinding, seakan meniru kemungkinan tak terbatas yang dibicarakan Thyra. Nyx
menatap sekeliling dengan mata terbuka lebar, membayangkan jalan-jalan tak
berujung, gerbang-gerbang tersembunyi, dan langit yang berubah sesuai kehendak
mereka. Ada kebebasan, tapi juga desiran ketegangan—setiap pilihan membawa
konsekuensi, setiap langkah bisa membuka kejutan.
Beberapa
peserta menunduk, mencoba membayangkan kemampuan luar biasa yang baru
dijelaskan. Hening menyelimuti sejenak aula, tapi dalam diam itu, dunia sihir
terasa hidup, menunggu untuk dijelajahi, penuh misteri dan kemungkinan tak
terbatas.
Mereka
semua mengikuti Miss Rose Mary menuju kelas masing-masing. Di foyer
yang luas Sign of Avenoir, langkah kaki mereka bergema lembut, saling
bersautan di antara dinding tinggi dan lantai marmer yang lebar. Beberapa siswa
saling menoleh, berbisik pelan, menunjuk ke langit-langit yang menjulang dan
jendela-jendela besar yang membiaskan cahaya hangat.
Nyx
melangkah hati-hati, sesekali menatap teman di sekitarnya, merasakan campuran
kagum dan canggung. Suara bisik, langkah kaki, dan napas perlahan-lahan mengisi
foyer yang lapang, menciptakan ritme tersendiri saat mereka melintasinya.
Kurang
lebih tujuh belas menit kemudian, rombongan itu tiba di kelas yang bersebrangan
dengan ruang penelitian. Pintu terbuka lebar, menyambut mereka masuk ke babak
baru dalam perjalanan belajar yang akan segera dimulai.
“Tolong
cepat sedikit! Duduklah, anak-anak!” perintah Mrs. Claire sambil
tergopoh-gopoh di depan kelas, langkahnya cepat memantul di lantai kayu.
Rambutnya yang using bergerak pelan mengikuti gerakan, dan matanya menatap tiap
peserta seolah memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Selamat
datang di kelas transformasi,” ucap Mrs. Claire, menatap seluruh siswa
dengan mata tajam namun hangat. “Nama saya Mrs. Claire, pengajar kalian hari
ini.”
Tanpa
menunggu jawaban, ia mengangkat tangan dan membiarkan cahaya lembut berpendar
di sekelilingnya.
“Pelajaran
pertama adalah sihir transformasi, atau sihir perubahan. Ini adalah
kemampuan untuk mengubah diri kalian menjadi orang lain—apapun usianya, tipe
tubuh, golongan darah, atau jenis kelamin yang kalian inginkan. Beberapa
penyihir bahkan bisa berubah menjadi benda apa pun.”
Dengan
gerakan lembut, Mrs. Claire menyentuh sebuah globe di meja. Sekejap kemudian,
globe itu perlahan berubah menjadi sebuah vas bunga yang indah, berkilau di
bawah cahaya kelas. Para siswa terpesona, mata mereka melebar, napas tertahan.
“Lihat,”
lanjutnya sambil tersenyum tipis, “yang kalian butuhkan hanyalah konsentrasi
dan imajinasi. Semakin jelas kalian membayangkan bentuk yang diinginkan,
semakin mudah transformasi itu terjadi. Jangan lupa, saat mantra dibatalkan,
perubahan akan memudar dengan caranya sendiri.”
Ia
melangkah di antara meja-meja, menatap setiap siswa seolah menantang mereka
untuk mencoba sendiri. Kelas terasa hidup, dan udara seakan bergetar ringan
mengikuti energi magis yang baru saja dipertontonkan—sebuah pengantar nyata
menuju dunia transformasi yang menakjubkan.
Dengan
cepat, Mrs. Claire mengeluarkan tongkat dari dalam jubahnya dan mengayunkannya
ke arah ensiklopedia di meja. Seketika terdengar suara percikan, dan ensiklopedia
itu mulai berputar perlahan sebelum akhirnya berubah kayu. Para murid menatap
terpukau, kagum dengan keahlian guru mereka.
“Semudah
itu caranya,” ucap Mrs. Claire sambil tersenyum bangga. “Hanya dengan
membayangkan globe menjadi kayu, sihir transformasi bisa terjadi.”
Louisa
Gruenert segera mengacungkan tangan. “Apakah ada mantra yang harus dilafalkan
untuk melakukan sihir transformasi?”
“Tentu
saja,” jawab Mrs. Claire, masih tersenyum. “Mantranya adalah Innefable! Ingat
baik-baik, mantra ini akan menjadi kunci pertama kalian dalam menguasai sihir
transformasi.”
Para
murid saling menatap, sebagian tersenyum gugup, sebagian tampak bersemangat.
Aula yang luas itu terasa hidup, penuh dengan antisipasi dan rasa ingin tahu
akan kemampuan yang baru saja mereka saksikan.
Setelah
demonstrasi Mrs. Claire, para siswa saling berpandangan, gugup tapi tak sabar.
“Sekarang,
letakkan Crystal Ball Feldgrau kalian di depan masing-masing,”
perintah Mrs. Claire, matanya bergerak tajam memindai setiap murid.
“Ubah
bola itu menjadi bentuk apa pun yang kalian bayangkan. Tidak lebih dari itu.
Kuncinya hanyalah konsentrasi dan imajinasi. Apa pun yang pertama kali
muncul dalam pikiran kalian, itulah yang akan terjadi.”
Para
siswa menunduk, jari-jari mereka menyentuh permukaan halus bola, napas
tertahan. Ruang kelas menjadi sunyi, hanya terdengar desis lembut langkah Mrs.
Claire dan gesekan kursi ketika beberapa murid mencoba menyesuaikan posisi.
Nyx
menatap bola di depannya, memejamkan mata sebentar, mencoba menyingkirkan semua
gangguan dari pikirannya. Di meja lain, Xin Xio Mei menelan ludah, lututnya
gemetar sedikit, sementara Louisa tampak menahan napas, menunggu hasil
imajinasinya muncul.
Mrs.
Claire berjalan di antara meja-meja, mencondongkan tubuh untuk memberi arahan
singkat, menegur yang terlalu gugup, dan menepuk bahu yang mulai kehilangan
fokus. Aula yang luas terasa menegang, seperti menahan napas bersama
mereka—semua menunggu percikan pertama dari kemampuan transformasi yang baru
saja mulai dijajal.
Enam
puluh menit telah berlalu, dan tidak satu pun bola di depan mereka berubah.
Kecewa dan frustrasi, para siswa mulai kehilangan semangat. Protes demi protes
diarahkan ke Mrs. Claire, suara mereka bergema di aula yang luas.
Beberapa
wajah menunjukkan kekesalan terang-terangan. Ethan Barett mengerutkan
kening, menatap Mrs. Claire dengan kemarahan yang tak tersamarkan. Gaharu hampir
saja membanting Crystal Ball Feldgrau miliknya,
sementara Xuan tampak frustasi, menepuk meja dengan kedua tangannya.
Di
sisi lain, Nyx Floretta menguap pelan, menandakan kebosanan dan putus
asa. Suasana kelas kini berubah tegang dan jengkel; kepercayaan diri
murid-murid menipis, dan rasa yakin mereka bahwa mereka tidak memiliki
kemampuan sihir mulai menguasai pikiran masing-masing.
Tiba-tiba,
suara Finral terdengar, penuh takjub.
“Lihat!
Bola milik Airish!”
Para
murid menoleh ke arah Airish, gadis yang terlihat misterius dan diam.
Seketika, Crystal Ball Feldgrau di depannya berpendar lembut,
bergetar sebentar, lalu—dengan kilatan magis yang halus—berubah menjadi seekor
kelinci putih.
Keempat
benda itu melayang perlahan, berputar di udara di sekitar Airish sebelum
akhirnya mendarat rapi di atas mejanya. Suasana kelas berubah seketika; mulut
para siswa terbuka lebar, mata mereka melebar, dan desahan kagum terdengar di
seluruh aula.
Airish
hanya tersenyum tipis, tenang, seolah ini adalah hal yang biasa baginya.
Sementara murid-murid lain menatap kagum dan iri, mereka mulai menyadari bahwa
kemampuan sihir bukanlah sekadar teori—beberapa dari mereka memang benar-benar
memiliki potensi yang luar biasa.
Mrs.
Claire terpaku menatap meja Airish, seolah ingin memastikan apa yang baru saja
ia lihat benar-benar nyata. Sesaat kemudian, senyum tipis merekah di
wajahnya—senyum yang jarang ia berikan.
“Luar
biasa, Airish,” ucapnya dengan nada penuh kekaguman. “Dalam waktu sesingkat
itu, Anda sudah mampu melakukan sihir transformasi dengan presisi. Saya berani
memprediksi, Anda akan menjadi murid yang paling mahir di kelas ini. Potensi
kekuatan sihir Anda… sangat besar.”
Ia
mengangguk pelan, lalu menghadiahkan senyum manis yang membuat beberapa murid
lain terdiam. Ruangan mendadak sunyi, hanya tersisa tatapan-tatapan yang
tertuju pada Airish—ada yang kagum, ada yang tak percaya, ada pula yang mulai
merasa tertekan.
Airish
sendiri berdiri tenang. Ia tidak membusungkan dada, tidak pula terlihat
terkejut. Ia sekadar membalas dengan anggukan kecil, seolah keberhasilan itu
bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Justru sikapnya yang dingin dan terkendali
itulah yang membuat hasil transformasinya terasa semakin mengintimidasi.
Di
antara murid-murid lain, rasa putus asa perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Jika Airish bisa melakukannya… lalu mengapa mereka tidak?
Dan
tanpa mereka sadari, sejak saat itu, kelas transformasi tidak lagi terasa sama.
Di
sudut lain, Xin Xio Mei mencoba mengubah kursinya menjadi bangku kayu yang
lebih tinggi. Kursi itu bergetar sebentar, berkilau, lalu perlahan berubah
bentuk—namun terlalu cepat, dan bangku itu miring ke samping, membuatnya
terjatuh dengan tawa gugup yang terdengar di aula.
Xuan
menatap Crystal Ball Feldgrau di tangannya, lalu membayangkan bola itu
menjadi pena emas yang bersinar. Sekejap kemudian, pena itu muncul di
tangannya, memantulkan cahaya hangat ke seluruh wajahnya.
Mrs.
Claire berjalan di antara meja, tersenyum dan menepuk tangan setiap kali ada
yang berhasil. “Bagus, bagus! Jangan takut gagal. Kegagalan adalah bagian dari
belajar!” katanya.
Aula
yang luas itu kini dipenuhi cahaya lembut dari benda-benda yang berubah, suara
dentingan, tawa, dan bisikan kagum. Setiap siswa merasakan energi transformasi
mengalir, seolah dunia baru terbuka di depan mata mereka—penuh keajaiban,
kegembiraan, dan sedikit kekacauan yang menyenangkan.
“Kalau
begitu,” ujar Mrs. Claire, menyapu pandangan ke seluruh ruangan, “kalian
sudah siap untuk sihir berikutnya?”
“Siap!”
jawab para murid serempak, suara mereka lebih mantap dibanding sebelumnya.
Mrs.
Claire tersenyum puas, ekspresinya tenang namun penuh arti. “Bagus. Tapi semua
itu… setelah istirahat siang.”
Saat
waktu makan siang tiba, Airish hanya mengambil seporsi salad dan sepotong
pie buah. Ia memilih duduk di dekat jendela, agak menyendiri, ditemani Gaharu dan Yushiro.
Percakapan hampir tidak terjadi—hanya bunyi alat makan dan cahaya siang yang
menyelinap masuk lewat kaca besar.
Begitu
selesai makan, Airish bangkit dan segera berlari keluar, seolah ada sesuatu
yang memanggilnya. Taman Sign of Avenoir terbentang dengan keindahan
yang nyaris tak masuk akal; hijau yang menenangkan, udara yang segar, dan
suasana yang membuat siapa pun enggan melewatinya begitu saja.
Sejak
pertama kali tiba hingga saat itu, kami belum pernah benar-benar berbincang.
Airish tetap menjadi sosok yang jauh—hadir di sekitar kami, namun seolah berada
di dunianya sendiri.
Mr.
Nathanael Thoreau segera dikenal sebagai guru yang paling dibenci di
kelas. Wajahnya nyaris tak pernah menunjukkan ekspresi, ucapannya singkat dan
jarang, dan cara berpikirnya sulit ditebak. Banyak murid diam-diam merasa
bahwa Sign of Avenoir telah keliru menunjuknya sebagai pengajar.
Ia
berdiri di kelas seperti sosok yang terpisah dari dunia di sekitarnya—dingin,
kaku, dan seolah tak tertarik pada apa pun selain dirinya sendiri. Pandangannya
jarang menyapu murid-murid; bahkan ketika mereka hadir di hadapannya, ia tampak
tidak benar-benar melihat.
Tak
ada kehangatan, tak ada dorongan, hanya jarak yang mencolok antara guru dan
murid. Bersamanya, kelas terasa lebih sunyi—bukan karena ketenangan, melainkan
karena acuh.
Pelajaran
pertama yang disampaikan Mr. Nathanael adalah tentang sihir
menyerang. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan malas, lalu mengayunkan
tongkatnya sekali. Sebuah layar terbuka, dipenuhi definisi-definisi kaku
tentang teori serangan sihir.
Tanpa
berdiri, tanpa menatap murid-muridnya, ia mulai berbicara—lebih tepatnya bergumam.
Suaranya datar, kalimatnya terputus-putus, seolah ia sedang menjelaskan sesuatu
yang hanya masuk akal bagi dirinya sendiri. Demi Tuhan, rasanya tak satu pun di
ruangan itu benar-benar memahami apa yang ia sampaikan.
“Menyerang,”
ucapnya pelan, “berasal dari kata dasar serang.”
Tidak
ada penjelasan lanjutan, tidak ada contoh. Hanya definisi yang melayang di
udara, sementara para murid saling bertukar pandang, semakin yakin bahwa kelas
ini akan menjadi mimpi buruk yang panjang.
“Menyerang
adalah sebuah homonim,” ujar Mr. Nathanael datar, tanpa mengangkat
pandangan. “Ejaannya sama, pelafalannya sama, tetapi maknanya bisa berbeda.”
Ia
menggerakkan tongkat sedikit, layar berganti. “Dalam konteks sihir, menyerang termasuk
kelas verba—kata kerja. Artinya, ia merepresentasikan tindakan, keberadaan,
pengalaman, atau proses yang bersifat dinamis.”
Ia
berhenti sejenak, lalu bersandar kembali ke kursinya.
“Selebihnya, pelajari sendiri. Sekarang… praktikkan ke depan.”
Tidak
ada instruksi tambahan. Tidak ada contoh. Hanya keheningan yang tertinggal di
kelas, bersama rasa bingung yang perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Kali
ini, Yushiro berhasil melancarkan serangan pertamanya. Tanpa
peringatan, ledakan singkat menghantam dinding dan menghancurkan lukisan
tepat di atas kepala Mr. Nathanael. Pecahan kaca berjatuhan, menyisakan
keheningan yang mendadak menekan.
Yushiro
berdiri tenang. Ia memang dikenal mampu menyerap materi dengan baik—buku-buku
yang ia baca tidak pernah sia-sia. Teori yang dianggap membingungkan, baginya
hanya soal urutan dan ketepatan.
Mr.
Nathanael mengangkat sebelah alis. Hanya itu. Namun bagi kelas, reaksi sekecil
itu sudah cukup menjadi tanda ketertarikan.
Sementara
murid-murid lain mengeluh karena gagal dan kebingungan, Mr. Nathanael tidak
memberi penghiburan. Ia hanya menatap mereka singkat dan berkata dingin,
“Baca bukunya lagi.”
Tak
ada empati. Tak ada penjelasan ulang. Di kelasnya, keberhasilan dihargai dengan
diam—dan kegagalan dibalas dengan tuntutan untuk memahami sendiri.
Materi
berikutnya beralih ke sihir pertahanan. Pintu kelas terbuka perlahan,
dan Miss Rose Mary melangkah masuk sambil melambaikan tangan dengan
ceria. Kehadirannya langsung mengubah suasana—ketegangan yang tersisa dari
kelas sebelumnya sedikit mencair, digantikan rasa penasaran akan pelajaran yang
akan datang.
“Hello,
kelas,” sapanya ramah, suaranya ringan dan hangat, seolah ingin menyingkirkan
sisa ketegangan yang masih menggantung di udara.
“Ini Fauntleroy,
pengajar sihir pertahanan kalian,” ujar Miss Rose Mary dengan nada
tegas. “Usianya delapan belas tahun. Ia mengikuti pelatihan di Sign of Avenoir
tiga tahun lalu. Meski usianya hanya terpaut setahun dari kalian, ia tetaplah
guru kalian—dan pantas mendapatkan rasa hormat.”
Ia
berhenti sejenak, memastikan setiap murid mendengarkan.
“Fauntleroy termasuk jajaran penyihir hebat di sini. Ini adalah kelas
pertamanya sebagai pengajar, jadi saya harap kalian mampu bekerja sama dan
bersikap sebagai murid yang baik.”
Belum
sempat kelas merespons, tubuh Miss Rose Mary perlahan berubah. Dalam sekejap,
sosoknya menjelma menjadi seekor pine grosbeak. Burung itu mengepakkan
sayapnya, melesat keluar melalui jendela yang terbuka, meninggalkan
keheningan—dan seorang guru muda yang kini berdiri sendiri di hadapan kelas.
Fauntleroy
menutup jendela dengan gerakan kasar, lalu langsung memulai kelas tanpa
basa-basi. Ia memang guru yang menyebalkan—mulutnya tajam, perintah seenaknya, dan nada bicaranya nyaris selalu terdengar seperti cercaan. Ia tidak
segan meremehkan, tidak peduli perasaan, dan mengatur kelas seolah semua murid
adalah bidak yang harus patuh.
Namun,
tak bisa disangkal, ia mengajar dengan sangat baik.
Dalam
waktu seratus menit lamanya, seluruh kelas berhasil merapal sihir pertahanan.
Penjelasannya singkat, keras, dan tanpa toleransi, tetapi efektif. Setiap
kesalahan langsung ditegur, setiap kelengahan dibayar dengan bentakan.
Teknik mengelak terbukti jauh lebih sulit—bahkan lebih rumit daripada sihir menyerang. Banyak yang gagal, kehilangan fokus, atau terlambat bereaksi.
Saat pelajaran berakhir, hanya satu nama yang disebut dengan pengakuan singkat namun jelas: Elno.
Dialah
satu-satunya yang berhasil menguasai teknik itu sepenuhnya.
Fauntleroy
tidak memuji. Ia hanya mengangguk tipis—dan entah mengapa, anggukan itu terasa
lebih berat daripada seribu kata pujian.
“Pelajaran
cukup sampai di sini. Tinggalkan ruangan ini. Sekarang,” tegas Fauntleroy,
nadanya dingin dan memerintah, nyaris seperti mengusir.
Tanpa
menunggu tanggapan, ia berbalik, seolah keberadaan para murid tak lagi penting
begitu kelas berakhir.
Dengan perasaan kesal yang masih tersisa, mereka segera meraih tas masing-masing dan bergegas keluar—menjauh dari ruangan dan guru mereka yang menyebalkan—menuju kelas sihir kutukan dan jampi-jampi. Kelas itu akan dimulai tak lama setelah makan siang.
Begitu pelajaran dimulai, Mrs. Wilma langsung memperlihatkan esensi sihir kutukan. Ia menjelaskan bahwa kutukan adalah bentuk sihir yang memungkinkan penyihir menanamkan efek tambahan yang bersifat menetap ke dalam sebuah mantra. Dampaknya beragam—mulai dari indra yang tumpul, penyakit yang melemahkan, hingga kematian.
Namun
sihir ini tidak bisa digunakan sembarangan. Untuk mencapai potensi penuhnya,
diperlukan mantra-mantra khusus dan kendali yang presisi. Semua
kutukan berakar dari ilmu hitam, kekuatan yang telah dipelajari selama
ratusan tahun dan dikenal berbahaya sekaligus mematikan.
Pelajaran
ini jauh lebih sulit dibandingkan kelas-kelas sebelumnya. Udara terasa lebih
berat, dan kesalahan sekecil apa pun berpotensi berakibat fatal. Di antara para
murid, Louisa tampak paling kewalahan—ia terus melontarkan mantra
kutukan, berusaha keras menjaga fokus, meski wajahnya mulai menunjukkan
kelelahan dan ketegangan yang nyata.
Di
sudut ruangan, Gaharu melangkah maju.
Kulit
sawo matangnya menyerap cahaya kristal, tidak memantulkannya. Ia membuka
telapak tangan. Asap tipis merambat naik, membawa aroma pahit yang hangat.
Gaharu menunduk sedikit, lalu mulai merapal jampi—bukan dengan suara tinggi,
melainkan nada rendah yang bergetar di dada.
Gaharu
tidak menatap siapa pun. Bibirnya terus bergerak, jampi mengalir pelan,
mengikuti ritme napas. Asap membentuk lingkar tipis di sekelilingnya—penahan,
bukan penyerang.
Gaharu
menyadari telapak tangannya tak lagi gemetar. Yang lain meneguk ludah, baru
sadar mereka sempat menahan napas. Mrs. Wilma mengangguk pelan—cukup satu
gerakan bangga untuk menyatakan semuanya. Gaharu berhasil.
“Astaga!”
jerit Nyx.
Kutukan
itu mulai bekerja.
Beberapa
murid spontan bertepuk tangan, kagum melihat hasilnya, sementara Mrs.
Wilma segera melontarkan pujian pada Nyx tanpa menyadari perubahan yang
merambat terlalu jauh. Namun kegembiraan itu tak bertahan lama.
Louisa lebih
dulu menyadari ada yang salah. Wajahnya memucat, kepanikan menyambar cepat—dan
seketika itu juga, murid-murid lain ikut terdiam ketika tengkorak yang
terkena sihir kutukan mulai bergerak liar, bergetar, lalu melompat tak
terkendali di dalam ruang kelas.
Suara
tulang beradu menggema. Meja-meja bergeser. Kelas yang semula teratur berubah
menjadi kekacauan.
Dan
di tengah hiruk-pikuk itu, kutukan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Perempuan
itu menjerit panik, “Turunkan sapunya!”
“Aku
tidak tahu caranya! Tolong—siapa pun!” teriak Nyx, suaranya nyaris pecah.
“Emphiternal!”
“Emphiternal!”
Mantra-mantra dilontarkan bertubi-tubi, saling bersahutan di udara. Namun sapu itu masih melayang liar, berputar tak terkendali, sementara kepanikan menyebar lebih cepat daripada sihir itu sendiri.
Suara kursi terjungkal memecah kaca kelas.
Louisa
sudah berada di depan sebelum siapa pun sempat berpikir. Tangan Mrs. Wilma
gemetar di udara, seolah hendak memberi aba-aba—namun tak pernah selesai.
Murid-murid berlarian, jubah mereka berkibar, sepatu beradu dengan lantai batu,
pintu terbanting satu per satu.
Sapu
terbang Louisa melesat naik. Rambutnya tersibak angin, mata terkunci pada satu
titik.
“Emphiternal!”
Udara
bergetar. Tengkorak itu terhantam, terlempar ke dinding dengan bunyi tulang
retak. Sebelumnya, makhluk itu sudah lebih dulu menghajar Nyx—tubuh kecil itu
tergeletak, napasnya tersengal, satu kaki tak lagi mau bergerak.
Tak
ada yang bersuara. Hanya pandangan kosong yang saling bertemu dan satu pikiran
yang menggantung di udara: siapa berikutnya?
Mrs. Wilma menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya pucat.
“Kelas… dihentikan.”
Kalimat
itu jatuh seperti palu.
Belum
sempat reda, jeritan lain muncul. Elno menerjang tanpa kendali—mata liar,
tangan mencengkeram udara—nyaris menerkam Finral yang berdiri kaku, bibirnya
masih basah oleh mantra yang baru saja dirapalkan. Keributan meledak. Mantra
beradu. Bangku terbalik. Asap tipis merayap di lantai.
Di
luar, Ethan Barett tergantung di dahan pohon, jubahnya tersangkut, berputar
pelan tertiup angin. Dari sudut lain, seekor kucing hitam
menggelembung—napasnya memburu—sementara Xio Mei berdiri tenang. Satu hentakan
kecil dari jemarinya, dan meja Yushiro hancur menjadi serpihan kayu.
Saat
semuanya berakhir, luka-luka berubah menjadi cerita.
Mereka
kembali ke asrama sambil tertawa tertahan, saling menunjukkan perban,
memamerkan lebam seolah lencana kehormatan. Malam menutup Sign of Avenoir
rapat-rapat. Tak ada langkah di koridor. Tak ada bisikan. Hanya tubuh-tubuh
lelah yang terbenam di kasur.
Nyx
menatap langit-langit.
Bayangan
tengkorak, suara tulang beradu, dan rasa nyeri di kaki kirinya datang silih
berganti. Dunia ini terasa terlalu terang. Terlalu luas. Ia menggenggam seprai,
bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar terjadi—atau hanya mimpi yang
terlalu jauh.
Pagi
berikutnya, suara lembut menggantikan teriakan. Mrs. Lynch berjalan di antara
mereka, tangan berpendar cahaya hangat. Luka menutup. Nyeri surut. Energi
mengalir pelan, seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Meja-meja
dirapikan. Buku-buku tua dibuka. Mantra kali ini tak menghancurkan apa pun—ia
memperbaiki.
Hari-hari
berlalu.
Aula
dibuka untuk terakhir kalinya. Lampu kristal berkelip di langit-langit, seperti
kawanan kunang-kunang yang terperangkap. Patung-patung es memantulkan cahaya.
Hidangan berjejer, uap hangatnya naik perlahan. Mereka berdiri di sana—utuh,
berubah, dan siap pulang.
Lalu
waktu melompat.
Pagi
yang lain. Bunyi klakson. Ketukan pintu. Bau rumah.
Nyx
duduk di tepi ranjangnya sendiri. Ia berdiri perlahan, menyeret kaki kirinya
menuju cermin. Di tangannya, selembar surat—kertasnya halus, tulisannya akrab.
“pintu
Sign of Avenoir akan selalu terbuka untukmu, Nyx”
Ia
membacanya sekali.
Lalu tersenyum.
-Sophie-Boegly.webp)
Komentar
Posting Komentar